SKIP 1
"Ramee', sudah mi lah!! Di liat semua ko orang, jangan ko selalu berkelahi deh, perempuan ko itu eh". ngos-ngosan becce mengejar ku, tak kuhiraukan ia dan tak ku hindarkan perkataannya, bahwa faktanya aku adalah perempuan.
'ah! sudah lah, ku biarka kau kali ini' fikirku. Sejenak kuhempaskan gunting yang kubawa, kulayangkan pandangan tajam padanya, biar dia sadar tidak seharusnya menantang kematian.
"Seandainya tidak cari gara-gara ji, tidak masalah jeka. sayangnya tidak ada memang otaknya itu baco', na anggap ka lemah, mentang-mentang perempuan ki'"
dengan cepat aku menuju ke kelas, namun langkah ku terhenti dangan mata yang perih akibat rasa sakit hati. Pandangan junior-junior pun tertuju padaku, entah itu takut, segan, atau mungkin takjub.
Aku bersalah, memang! Bertindak dengan kekerasan, tak memakai nalar kewanitaan yang identik dengan kelembutan. Tapi itu tak ada dalam kamus ramee' sang pejuang perempuan di sekolahan.
Sayangnya, tidak semua merasa beruntung krn terlahirnya diriku, menyedihkan memang.
Contohnya kali ini wali kelas ku sendiri, ia langsung menyeret kalimatnya di hadapan teman-teman sekelas ku.
" mau ki bunuh baco'?" Tenang namun mencekam.
"Iyye bu!!" Dengan mantap ku iyya kan harapan ku
"Bunuh mi pale" dan kesempatan memang diatas awan, tak menunggu terlalu lama, ku ambil kembali gunting yang tadi kubawa..
"...tapi mau jeki masuk penjara? Disel ki sampai jadi mayat ki di sana? Kalo tidak takut ki sama Allah, cincang mi pale' biar masuk ki ke neraka".
Alama.. baru berbahagia didalam impian yang nyata, wali kelasku ini sudah mendeskripsikan kehidupan yang paling abadi, dimasa kematian ku nanti.
Diam terpaku, Ku tatap mata baco' yang awalnya ingin ku cincang, dia akhirnya bersyukur ku lihat.
"Bagaimana ramee'? Masih ada niat ta?" Dengan senyum lembut ditatapnya aku.
Berfikir "tidak bu! Tidak jadi sekarang bu" itu kalimat yang pas di benak ku.
"Iyaaa, begitu. Jangan ki selalu berkelahi" syukurlah, beliau tidak mencermati kalimat ku, tenang ramee', masih ada kesempatan.
"apa lagi kita perempuan ki ramee', tidak baik itu perempuan main berkelahi, apa lagi pake gunting, besok tidak mau ka dengar kalo masih bawa gunting ki nah, oK?"
"Yee' bu" kalimat pelanggar yang pas
" kamu juga baco', kenapa selalu kita ganggu teman-teman ta perempuan, ada kita suka-suka kah? Atau ramee' kita suka?"
Tawa membahana yang mereka kira itu lucu?? Sungguh terlalu jalan cerita ku.